Kategori
Minuman Keras

Karena Penjualan Bir Menurun Drastis di Buat Alkohol Tanpa Kedaluwarsa

Karena Penjualan Bir Menurun Drastis di Buat Alkohol Tanpa Kedaluwarsa

Bisnis industri bar dan restoran di Jepang mengalami penurunan signifikan. Penjualan bir di Jepang tercatat turun 26%. Penurunan itu akibat pandemi COVID-19 yang terhitung mengakibatkan Summer Olympics batal dan ekonomi negara itu terpuruk.
Di lansir dari laman dari tequila-orendain.com, Senin (26/10/2020) Isamu Yoneda, pemilik produsen bir asal Jepang Kiuchi Brewery menjelaskan penurunan pada penjualan bir jadi pukulan untuk produsen bir kecil. Yoneda mengaku bisnisnya telah kehilangan sejumlah pelanggan dan pesanan ekspornya. Kini pabriknya di penuhi tumpukan bir.

Oleh di karenakan itu di kutip dari laman idnplay mobile, Yoneda mencari solusi, keliru satunya mengubah bir jadi minuman beralkohol yang berbeda, yakni gin. Gin adalah sebuah minuman beralkohol tetapi tidak mempunyai jaman kedaluwarsa. Tidak layaknya bir yang mempunyai kedaluwarsa selama empat sampai enam bulan.

Yoneda, mengungkap bukan kali pertamanya pabriknya Kiuchi Brewery mengubah bir jadi gin. Kebanyakan gin di bikin bersama bahan basic biji-bijian layaknya barley, rye atau gandum, yang di fermentasi jadi tumbuk, kemudian di suling jadi minuman keras netral yang tahan lama. Setelah itu, di suling untuk ke-2 kalinya bersama buah juniper dan tumbuhan lainnya yang menambah rasa.

Yoneda mengungkapkan, bir yang di jadikan gin menjadi pahit.

Maka dalam prosesnya, pembuatan gin juga menggunakan buah paprika sansho, lemon, dan mikan. Hal itu di lakukan untuk menyeimbangkan rasa pahit dan asam.

Dalam proses penyebarluasan ke sejumlah bar, Kiuchi meminta mereka untuk mengirim minimal 20 liter bir yang tidak terpakai, yang akan di kirim kembali sebagai gin. Kiuchi dapat menghasilkan delapan liter gin dari setiap 100 liter bir. Kemudian bisa menghasilkan botol gin 750ml standar atau sebagai koktail gin, baik dalam kaleng atau tong untuk di gunakan dalam keran.

Kiuchi bukan satu-satunya tempat pembuatan bir yang menggunakan bir untuk membuat gin. Ethical Spirits & Co mengubah sisa sake menjadi semangat baru. Salah satu pendiri Chikara Ono mengatakan perusahaan mulai menjajaki resep baru untuk membuat gin dari bir.

Pada bulan Mei, mereka menerima sumbangan 20.000 liter bir Budweiser yang kedaluwarsa dari raksasa minuman AB InBev, yang memiliki kelebihan stok karena penurunan penjualan. Perusahaan rintisan tersebut menggunakan bir untuk membuat 4.500 botol gin.

Ethical Spirits saat ini masih dalam proses membangun penyulingan sendiri di Tokyo, yang di jadwalkan buka pada bulan Desember. Pabrik itu berkolaborasi dengan penyulingan sake Gekkeikan untuk menyaring Budweiser.

Penyulingan gin pertama di Jepang di buka empat tahun lalu di Kyoto. Pasar gin saat ini di perkirakan bernilai US$ 209 juta dan di perkirakan akan tumbuh sebesar 4,4% setiap tahun selama tiga tahun ke depan. Perusahaan minuman besar, termasuk raksasa wiski Jepang Suntory dan Nikka, telah membantu meluncurkan gin Jepang ke panggung internasional.

Tren minuman di Jepang mengarah ke gin soda dan koktail kaleng siap minum. Tentu menciptakan peluang bagi produsen yang kreatif untuk menggunakan kembali kelebihan stok bir secara berkelanjutan.